08 June 2007

dari burg ke ville

saya sudah sampai di knoxville, tennessee, kemarin.
dari harrisonburg jam 09.00 pagi, sampai di knoxville kira-kira jam 15.00. njujug di rumah jim foster, salah satu pengurus kegiatan kerjasama SPI dengan para aktivis perdamaian di knoxville, yang rumahnya penuh buku itu.
sungguh-sungguh penuh.
dari tempat masuk, dapur, living room, kamar mandi, kamar tidur -apalagi kamar kerja- berrak-rak buku ada di sana. dan buku-buku itu kebanyakan saya kenal [seneng juga menyadari ini, ternyata koleksi buku saya tidak berada di jalan sesat! atau kalau mau meminjam ucapan seorang teman: saya ini tersesat di jalan yang benar! ha..ha..]. ternyata, koleksinya juga beragam-ragam, tapi saya merasa kenal, merasa seperti di rumah saya sendiri yang juga mengoleksi buku beragam-ragam.

tapi, saya tidak menginap di rumah jim itu.
saya menginap di rumah jim yang lain. seharusnya, saya dapat jatah untuk menginap di rumah paul-mary hilchey [yang dulu juga jadi hostnya bu jeanny] tapi ternyata mereka berdua mau pergi weekend ini sehingga mereka memasrahkan saya ke jim-shirley wenzel.
mereka adalah pasangan pensiunan, jim pensiunan mekanik angkatan laut berusia 84 tahun, dan shirley [82] belum saya tahu latar belakangnya.

mereka berdua bertemu saya ketika kami disambut di gereja church of the savior. tempat kami mengawali kegiatan ini. di situ juga berkumpul para hosts yang akan menampung kami di knoxville. bersembilan kami masing-masing membuat semacam kesaksian mengenai apa yang menjadi concern utama kami dalam kegiatan peacebuilding. ini berlangsung cukup lama, dari jam 6.00 pm sampai 10.00. tapi didahului dengan makan bersama secara potluck, dan baru pukul 08.00 kami melakukan 'kesaksian' tadi.
kesaksian ini kemudian disusul dengan doa secara taize [tapi sakjane ndak begitu taize banget], karena cuma menyalakan lilin dan kami masing-masing mengambil nyala lilin bagi lilin kami sendiri yang kemudian kami tancapkan pada tempayan berisi pasir putih, sambil mengucapkan harapan mengenai perdamaian.
[ternyata, produksi simbol-simbol beginian ini subur di kalangan pelatihan SPI]

selesai itu kami diantar pulang oleh pasangan host kami, pulang ke daerah lenoir, di tepi danau tennessee, yang jauhnya 25 mil dari knoxville. cukup jauh bagi seorang tua macam jim dan shirley yang dalam kegelapan malam mengantar kami menembusi hutan dan kadang-kadang melihat rusa yang menyeberang.

mereka berdua tinggal berduaan saja. keempat anaknya sudah mandiri dan memberi banyak cucu dan cicit. tapi, di rumah yang kecil rapi ini tidak ada buku. ada komputer, yang saya pakai sekarang ini, dan banyak alat rumah tangga yang serba otomatik dan menakjubkan bagi orang desa seperti saya. tapi untuk ini akan saya ceritakan kali lain saja.

05 June 2007

pangkur ngrenas, laras pelog pathet lima

ini tadi barusan saya ikut nyumbang acara dalam malam penutupan session ketiga. rupanya mereka terkesan dengan permainan suling "ngawur-ngawuran" saya ketika pembukaan session itu, sehingga malam ini saya diminta lagi.
tapi,
sayang sekali, suling bambu yang saya bawa dari yogya itu ternyata pecah di koper. mungkin ketindihan barang-barang sekoper, ketika koper dibanting-banting di bandara ketika pesawat harus transfer.

valerie menjadi juru selamat.
valerie meminjamkan blok flute, entah dari mana, untuk saya pakai malam ini.
dan saya mengaku saja bahwa ini suling barat akan saya mainkan secara jawa, alias "ngawur-awuran" semau-mau saya.

saya memainkan tembang macapat pangkur ngrenas, laras pelog pathet lima. rasanya ini paling bisa saya mainkan dengan blok flute diatonik itu. lagian, tembang ini sebenernya sudah saya hapal garis besar kata-katanya.
lalu,
kembali internet jadi juru selamat. saya browsing untuk nyari tembang itu dan nemu di sini [pdf]. di situ ada lirik berikut keterangan mengenai tembang ini.
rupanya, pangkur adalah tembang untuk meredakan atau menenangkan orang yang sedang dilanda semangat bertempur [in a passion of violence or fighting]. wah... ciociok banget ini...
njuk saya cari [browsing lagi, maksudnya] terjemahannya. dapet di sini.
tapi, nek diinggriskan kok rasanya kurang menggigit ya?
njuk,
kembali semangat ngawur-awurannya kumat. saya katakan saja bahwa terjemahannya kurang tepat. tapi maksudnya adalah gini-gini-gini.... wis, gitu aja, bule-bule paling ndak tau juga kok...apalagi fans saya yang dari afrika, india dan nepal itu ...halah...paling ra reti!

lha untuk menambah dramatisasi, saya minta meja untuk saya pakai duduk bersila di atasnya. setelah melepas sepatu, lalu saya duduk bersila, pakai iket, njuk kalungan kain hitam yang saya bentuk seperti stola. make stolanya aja pakai nyembah-nyembah, biar dramatis.
dan penonton memang senyap.
cep...klakep!
[batinku ngguyu dhewe!]

lalu mulailah saya meniup seruling.
mula-mula melengking ngawur, njuk makin lama makin mendekati tema tembang pangkur itu. saya susul dengan pembacaan bait pertama.
Mingkar mingkuring angkårå
akarånå karenan mardi siwi
sinawung resmining kidung
sinubå sinukartå
mrih kretartå pakartining ngèlmu luhung
kang tumrap nèng tanah Jåwå
agåmå ageming aji
ambil nafas,
lalu saya tiup lagi melengking-lengking ngawur sejadi-jadinya... kembali saya arahkan ke tema tembangnya.
lalu masuk ke bait kedua.
Nggugu karsané priyånggå
nora nganggo peparah lamun angling
lumuh ingaran balilu
uger guru aleman
nanging janmå ingkang wus waspådèng semu
sinamun ing samudånå
sesadhoning adu manis
selesai itu saya sajikan terjemahannya dalam bahasa inggris:
We set aside the needs of the self
For the pleasure of educating children
Through good songs,
Worded beautifully and with care,
So that they will learn the high knowledge
Prevailing on the island of Java
According to the religion of the Kings.
sebelum meninggalkan "panggung" berupa meja itu saya nyembah lagi. embuh nyembah apa...
dan tepuk tangan gemuruh...ditingkah suitan bersiut-siut dari rekan-rekan afrika dan nepal.
saya membatin: ini untuk bapak!
[ketika saya naik "panggung" saya memang teringat bapak almarhum]

04 June 2007

reconciliation as a peace-building process in postwar europe

hari ini kami membicarakan hal yang masih bersangkut paut dengan tema besar kelas ini: rekonsiliasi. tajuk yang dibaca dan didiskusikan adalah artikel alice ackermann dalam jurnal "peace & change", vol 19 no.3, july 1994: p.229-250. mengenai kasus rekonsiliasi jerman-prancis pasca perang dunia kedua.

perang dan perseteruan kedua bangsa ini sendiri pelik. sudah berlangsung lama. namun demikian, pendekatan baru mengenai rekonsiliasi dari gardner feldman coba dipakai untuk menerangi proses rekonsiliasi antara kedua bangsa.
...it is crucial to recognize not only the political dimensions but also the significance of the psychological and moral dimensions of reconciliation.

jadi, artikel alice ini bermaksud ke sana: melihat secara teoretik maupun empirik rekonsiliasi sebagai proses. bukan hanya dimensi politik, namun juga moral.
langkah pertama adalah penerapan teori rekonsiliasi dalam hubungan internasional, dari joseph montville dan gardner feldman. yang pertama mengusulkan tiga proses mendasar: the humanizing of relationships among leaders, the creation of domestic environment conducive to peace, the creation of cooperative linkages.
sedangkan yang kedua, rekonsiliasi bagi feldman adalah proses penyiapan struktur yang menghasilkan hubungan damai yang langgeng antara kedua bangsa/negara. ujung dari proses ini adalah "structural peace, that is a condition of durable peace based on the establishment of multilateral and bilateral structures...".

proses ini ditandai dengan berubahnya lawan menjadi kawan.
artikel ini kemudian memerlihatkan contoh-contoh bagaimana penciptaan linkages itu terjadi pada lahirnya EU. suatu proses yang mula-mula justru digerakkan oleh LSM kedua negara untuk saling mengingat keganasan perang dengan cara sederhana seperti ziarah ke masing-masing makam dan monumen para pahlawan kedua belah pihak. membuat semacam "collective grief" dan "collective mourning".

rekonsiliasi ini tidak menjamin akan kelanggengan hubungan damai, karena struktur ini perlu selalu dipelihara dan dirawat baik-baik. utamanya dari ancaman nasionalisme ekstrem.


forgiveness and reconciliation in buddhism



sallie king, from JAMES MADISON university, harrisonburg

A. GENERAL ORIENTATION: FOUR NOBLE TRUTHS
  1. problem: suffering
  2. identify the root causes: ignorance and crowing....."i want"
  3. vision of goal: cessation of suffering... nirvana
  4. identify methods: path to the cessation of suffering
B. ESSENTIAL METAPHYSICS
  1. interdependence
  2. no self
  3. karma
C. DHAMMAPADA
D. ENGAGED BUDDHISM
E. THREE EXEMPLARS OF ENGAGED BUDDHISM:
  1. maha ghosananda, cambodia
  2. thich nhat hanh, vietnam
  3. dalai lama

01 June 2007

forgiveness

ini adalah topik panjang yang dibicarakan sejak kemaren.
bagaimana mungkin sebuah sikap bermusuhan, dendam dan kekerasan yang tertimbun karena beliefs, values, ideology, tradition bisa terhapus begitu saja?
ini semuskhil memindah pucuk gunung es tanpa memindah sekujur gugusan gunung yang ada di bawahnya.
hanya satu saja caranya, ialah pengampunan. forgiveness.

dan untuk topik itu kami belajar dari tradisi budhis, khususnya zen-budhism.
kemaren kami membahas mengenai empty mind. dan sekarang kami belajar mengenai the noble truth dari seorang budhist yang diundang untuk memberi ceramah dalam kelas kami.

30 May 2007

philosophy and praxis of reconsciliation

ini adalah kelas yang aku ambil dalam session ketiga, bersama prof. hizkia assefa.
kelas dibuka kemaren dengan membahas perbandingan mekanisme dalam menangani konflik. dari yang menggunakan pemaksaan hingga rekonsiliasi. keduanya ditempatkan sebagai sebuah kontinuum. pembandingan ini dimaksud agar kami bisa digiring untuk menghargai rekonsiliasi.

rekonsiliasi disadari bukanlah perkara sederhana. ini seperti puncak gunung es. yang kelihatan cuma sedikit, sementara yang terendam di air adalah nilai-nilai, kepercayaan, life-style dan berbagai hal yang mewarnai tindakan yang terlihat di permukaan tadi.
[materi seperti ini sudah saya ketahui di PSPP karena tiap kali pelatihan selalu menggunakan penyadaran ini bahwa konflik itu ada akar-akar lembut yang mencengkeram di bawah yang nampak].

hari ini tadi kami mendiskusikan persentuhan kekristenan dengan zen budhism. khususnya mengenai pengertian empty mind. dalam kutipan yang digunakan, nampaklah istilah sunyata yang dalam budhism dimengerti sebagai kekosongan tapi penuh isi. pengertian ini masih dilestarikan oleh orang jawa yang mengatakan kasunyatan sebagai kenyataan, realitas.
padahal, istilah itu memuat pengertian sunya yang berarti kosong atau sepi.

malam ini kami mendapat tugas untuk diskusi esok pagi mengenai kasus konflik-konflik di rwanda. ini konflik yang rumit, berbelit-belit antara kepentingan politik luar negeri para bekas penjajah [belgia], konflik historis antar etnik dan berbagai kekuatan wacana yang dibikin oleh para penulis kisah sejarah.

jangan kemana-mana, tunggulah laporan saya esok hari.
halah..!

rindu ronda

tengah malam ini aku nglilir.
tadi udah ketiduran di sofa ketika nonton tivi.
jam segini ini biasanya aku mendengar bunyi kentongan ronda.
tapi tidak di sini.

aku rindu bunyi kentongan ronda.
bunyi yang membuatku terjaga.
jam-jam segini ini biasanya.
tapi tidak di sini.

29 May 2007

living in harmony

tadi kami kelompok asia&australia diminta mewarnai pembukaan session ketiga.
beberapa hari ini kami berapat dan tidak pernah lengkap: myra, alex, victor, saya, hur, pak yo, pak paulus. lalu tadi ketambahan ling yang baru datang dari weekend.

tema, seperti yang saya usulkan dan diterima secara aklamasi, adalah "living in harmony". tema ini saya pilih karena saya pikir kekhasan kultur di asia adalah seperti itu: harmoni, alih-alih dominasi. baik harmoni terhadap alam, sesama maupun "yang ilahi".

acara tadi dimulai dengan pemanggilan, yakni tiupan seruling dan pukulan lunak mangkuk budha. seruling yang niup saya. lha adanya adalah seruling blok yang doremi itu, maka tak tiup aja seruling itu kuat-kuat sehingga melengking tinggi dan saya mainkan seperti tiupan yang merintih-rintih... tak tiup semau-mau saya. wis, embuh lagunya apa, pokokmen tak tiup meliuk-liuk gitu...

eee... lha kok malah menarik orang sehingga mereka mau berkumpul masuk ke ruangan dan berebut motretin sayah...aduh... jadi ge-er nih...

lalu acara dibuka dengan penyalaan dupa oleh alex, yang kemudian dupa itu ditancepin di mangkuk berisi pasir yang ditarok di atas meja utama [sementara itu, di halaman luar, di sudut-sudutnya udah tak tancepin 12 batang dupa di keempat penjuru angin].
lalu ada sambutan pembukaan oleh myra, disusul oleh berbagai sambutan lain dari pat martin dan doa. lalu ada tarian selamat datang dari laos dan myanmar yang dilakukan oleh ling dan victor. victor ini juga ndagel, nari semau-maunya asal gerak niru gerakannya ling aja...

saya -seperti biasa- diminta ngurusin komputer untuk presentasi foto-foto mengenai asia&australia. ini bukan foto-foto untuk konsumsi turis, tapi memang tak download dari internet sehingga dapet foto-foto buagus... dan memang dipuji banyak orang. isinya mengenai harmoni dengan alam dan manusia serta aktivitas religius orang asia.

habis itu acara perkenalan masing-masing dengan cara maju menyebutkan nama dan asal lalu menempelkan stiker kecil berwarna-warni [boleh dipilih sendiri mau warna apa] di peta dunia besar yang sudah ditempel di depan. acara ini menarik karena dengan demikian acara perkenalan lalu meninggalkan jejak secara spatial.

selanjutnya nyanyi dengan lagu berbahasa tagalog, spanyol dan inggris tentang damai, yang dipimpin myra. ini meriah dan gayeng. dan seterusnya hingga berakhir dengan menyanyikan shallom...shanti...shadu...shancai...salam...

sungguh. acara tadi mengesan dan kami semua merasakan sukses.
thanks lord!

27 May 2007

everybody is someone's hero

tulisan itu saya baca di suatu billboard iklan di metro, di bawah tanah washington dc.
kayaknya iklan asuransi. entahlah, aku nggak ingat benar. itu terbaca selintas ketika kami dolan ke dc.

kami tadi ke washington dc [lagi]. kali ini bersama pak hur, pak yo, dan daniel. saya sebenarnya tidak niat karena tahu bahwa untuk bepergian begini pasti bakal keluar uang banyak. tapi karena ada rencana mau mblusak-blusuk pake metro, maka saya pun tertarik. apalagi daniel janjiin ongkosnya masih terjangkau.

kami blusukan ke united states holocaust memorial museum.
museum hasil karya almarhum arsitek james ingo freed ini sebenarnya biasa-biasa saja, tapi mendapatkan lokasi site yang bagus dan terhormat. dan yang lebih penting dari itu adalah caranya mendisplay materi pameran serta otentisitas materi pamerannya sendiri memang kuat. dia pernah jadi orang kepercayaan arsitek i.m. pei, yang merancang east building national gallery of art di deket situ.

otentisitas materi pamerannya sendiri kuat. ngefek banget!
buktinya, semua orang merasa ngeri sepulang dari sini. termasuk pak yo.
dan sebenarnya, ini sudah dikatakan oleh daniel sebelum kami pergi.

daniel hari ini jadi pahlawan kami. dia menuntun kami seharian, juga mbayari duluan pembelian karcis metro, lalu membantu menyusuri peta bawah tanah dc yang buat kami rumit itu. udah gitu, dia masih nyopirin dari fairfax sampai ke harrisonburg pergi pulang!
halah...
itu belum apa-apa saudara-saudara. sebab, ketahuilah, dia pula yang mbayarin bengsinnya! betapa tidak tahu malunya kami ini...:-)
udah gitu, di asrama, dia masih masakin nasi buat kami..
[betapa keterlaluannya dia! eh, maksudku, betapa keterlaluan baiknya dia]

hari ini,
dialah hero kami.
tenan!

keset raksasa

[tulisan ini masih seperti tulisan-tulisan sebelumnya, isinya cuma gumun-gumunan. terheran-herannya wong ndesa seperti saya ketika masuk di dunia yang amat berbeda.]

tadi malam kami diundang makan malam oleh puput, nita, daniel dan chie-chie.

kami masuk ke rumah mereka yang tidak jauh dari rumah pak yoder dan pak sumanto.
masuk rumah itu perkara tersendiri.
setelah pintu rangkap itu dibuka [pintunya memang ganda, satu membuka keluar, satu membuka ke dalam] kami berada dalam ruang 2x2 meter yang dikitari pintu semua. kami di minta masuk ke salah satu pintu yang membawa kami ke tangga naik ke attic.
tangganya tertutup karpet sepenuhnya.
setelah naik sampai di atas, lantainya pun jebul tertutup karpet sekujurnya.

saya perhatikan, tidak ada satupun di antara kami yang lepas sepatu atau sandal. jadilah kami semua mendaki tangga dan masuk ruang atas dengan sepatu dan sandal melekat di kaki.
lha jebul, ini memang kebiasaan di sini. lumrah bila sandal dan sepatu tetap melekat sementara lantai tertutup karpet.

karpet ini, rasanya, sudah menjadi keset raksasa.
walau pun, sandal dan sepatu kami tidak sekotor di indonesia, tapi tetap saja saya tidak tega mengenakan sepatu di lantai karpet itu: sepatu sandal saya tak lepas di dekat pintu keluar.

ketika saya pulang, yang celaka saya sendiri: harus nyari-nyari di mana narok sepatu sandal saya tadi...
[salahe dhewe ndadak dilepas segala! nggayaa...he..he..]

mak jedhuer..!

itu suara khas pintu bila sedang ditutup di sini: selalu menghasilkan bunyi seperti dibanting. [tindakan seperti kita menutup pintu mobil, yang kebanyakan juga dilakukan dengan cara membantingnya].
untuk saya dan teman-teman yang belum biasa, ini menggelisahkan: siapa yang marah ya?

membanting pintu itu bagi saya adalah salah satu ekspresi marah yang terungkap secara tidak langsung. mungkin karena obyek kemarahannya tidak hadir, atau dia terlalu besar dan kuat untuk dilawan? bisa saja. tapi menutup pintu sehingga menghasilkan suara seperti dibanting pasti membutuhkan disain pintu, engsel dan slot kunci yang bermutu tinggi. demikian juga kualitas daun pintunya musti tebal dan 'tahan banting'.

membuka pintu, tindakan yang berlawanan dari menutup pintu, sebagai konsekuensinya juga harus dikerjakan dengan penuh tenaga. karena umumnya rumah-rumah dan bangunan umum di sini pintu luarnya membuka ke luar, maka untuk membukanya kita harus menariknya kuat-kuat.
itu sebabnya maka bagi orang tua dan orang difabel disediakan tombol untuk membukakan pintu itu secara otomatis. tinggal didudul dengan ujung payung saja pintu seberat itu akan membuka dengan sendirinya.
tapi,
mengapa disain pintu di sini harus begitu?
barangkali karena memang antara ruang luar dan ruang dalam itu memang harus tersekat sempurna. khususnya pada musim dingin, ruang dalam harus diisolasi dari ruang luar dan tidak membolehkan adanya celah yang bisa disusupi udara atau angin dingin masuk ke dalam bangunan. itu sebabnya maka semua daun pintu berikut sistem penguncinya harus menjamin isolasi tadi.

pintu yang berat dan tertutup rapat bisa terselenggara gerakannya karena ada door closer otomatis yang biasa dipasang di pintu-pintu bangunan umum [kadang di rumah ada yang masang juga].
tentu, setelah pintu dibuka otomatis, pintu itu juga akan menutup secara otomatis, juga dengan suara "mak jedhuer..!" tadi.

halah...

25 May 2007

pindah kelas

session ketiga nanti saya pindah kelas, dari PAX 617 ke PAX 563. dari peace processes: multi-track approaches bersama catherine barnes ke philosophy & praxis of reconciliation bersama hizkia assefa. dan sudah disetujui oleh valerie [untung belum terlambat, begitu dia bilang. karena saya mengajukannya baru kemaren sore].

saya belum tahu isi keduanya. tapi, bila ditimbang-timbang, saya ingin yang lebih dari pada hal-hal praktis. saya ingin tahu bagaimana kesulitan dan peluang rekonsiliasi dipikirkan. dan menurut sam ekiror sahabat saya, dia sarankan ambil hizkia saja. [sam selalu begitu, memilih berdasarkan instrukturnya he..he.. so do i!]

akibat pilihan ini, mungkin untuk session keempat nanti saya juga akan pindah sebab di session keempat itu saya merencanakan untuk ambil kelasnya hizkia tapi mosok ambil satu instruktur untuk dua kelas?
saya -ini usulan pak paulus hartono yang melihat saya sukanya motret- agar saya ambil kelasnya lisa schirch saja: strategic media & arts-based peacebuilding. tapi, lisa yang istrinya bill goldberg ini, orangnya kok nggak menarik ya?
orangnya nggak artistik, dalam arti: kamera saya enggan motret dia gitu!
ha..ha..

rahayu..!

kami menutup session kedua di kelas kami dengan menampilkan ritus untuk mengeratkan komunitas. yang dipilih adalah istilah dalam bahasa jawa. saya tidak mengira bahwa jawa bakalan dipilih untuk acara ini.
instruktur menanyakan ke saya, apa bahasa jawa untuk mengatakan damai, sejahtera dan keadaan baik bagi semua orang?
saya pilih beberapa kata: sae, prayoga, yogya, dan rahayu...
dia bingung.

saya jelaskan bahwa kami tidak biasa mengungkapkan hal itu dengan satu kata. lalu, tak pikir-pikir lagi [sambil disusu-susu dia] saya pilih yang terakhir tadi: rahayu. kata yang bisa mewakili sapaan saling berbagi kedamaian, kesejahteraan, keselarasan...

dan supaya agak dramatis, saya katakan bahwa dulunya orang jawa menyampaikan ucapan itu kepada sesamanya dengan disertai gerak tubuh anjali, yakni mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada. saya tahu bahwa tindakan seperti ini masih dijalankan oleh saudara-saudara budist di jawa.
[gesture anjali ini juga berlaku untuk sembahyang, ditambah ada bunga di ujung tangan yang terkatup itu. bunga ini kelak akan disebut puspanjala. sekarang nama suatu jalan di kawasan kotagede]

jadilah kami semua di kelas itu berlatih menggunakan kata rahayu disertai anjali.
kami berdiri melingkar dan berdua-dua kami saling mengucapkan dengan irama amat pelahan: rahayu dengan anjali. lalu memutar arah badan, menyampaikan hal yang sama pada partner sebelahnya. begitu berulang-ulang dalam irama pelan...

mereka senang.
saya pun senang karena rahayu jawa bisa ke mana-mana. yang palestina, yang afghanistan, yang azerbaijan, yang mesir... mereka sekarang pulang dengan membawa rahayu.

rahayu!

23 May 2007

packing oleh-oleh

sanjay sudah mengepak oleh-oleh dan barang-barangnya.
jumat ini dia harus pergi, ke kalifornia dulu, baru 2-3 hari kemudian dia kembali ke india. demikian juga rekan-rekan yang dari eropa, karibia dan afrika. umumnya mereka hanya dikasih jatah untuk ikut 2 session saja oleh organisasi pengutusnya, tapi tahun depannya lagi boleh ikut lagi 2 session lagi.

tiap sore, dua hari sekali, kami diantar ke grocery. untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
saya perhatikan pada hari-hari ini belanjaan mereka sudah berubah tema. kalo hari-hari pertama dulu yang dibeli adalah minyak, telor, daging, susu dan cemilan. sekarang yang dibeli adalah oleh-oleh. ada baju, sepatu, kamera digital, hape... malah pak yo teman sekamarku mau beliin laptop untuk anaknya biar anaknya segera menyelesaikan skripsinya.

saya telepon istri dan anak-anak kemaren sore: "mau dioleh-olehi apa?"
"nggak usahlah pak. pokoknya bapak pulang saja sambil bawain aku sweater yang pake capuchon". itu abra [dasar kemayu].
iwang, kakaknya, juga: "gak usah pak, tapi bawain aku komik naruto yang bahasa inggris, jilid 14 [dia sudah punya yang edisi jepang dari oomnya].
istriku sendiri: "rasah mas, pokoke kowe mulih slamet wae wis seneng".

duh,
beda banget dengan orang-orang lain?!
orang lain belum ditanya aja udah omong: "oleh-olehnya yaa..."
he..he..

pagi ini aku merenungi, sambil lihat beberapa teman yang pada mengepaki barang dan oleh-olehnya: apa sih oleh-oleh?

22 May 2007

bahasa [mujizat kantong ajaib]

saya tahu bahwa saya ada masalah dengan bahasa. tidak hanya dengan bahasa inggris, tapi dalam tiap bahasa tidak mudah bagi saya untuk menangkap dan bicara lancar. baik dalam bahasa jawa maupun bahasa indonesia, saya berkali-kali memang tidak lancar dalam mengutarakannya.
tulisan maupun lisan.

hari ini tadi saya harus presentasi: mengenai apa yang kami kerjakan dalam komunitas dan apa peran kami di situ. pointnya ada pada pentingnya komunikasi dalam menjalin keeratan antar anggota komunitas.
assignment yang mendadak, memang.

tiap orang bercerita perihal ketimpangan sosial, ekonomi, politik dan bagaimana mereka menempatkan diri di situ. yang perempuan menonjolkan ketidaksetaraan yang mereka alami. yang dari palestina juga menyetorkan pengalaman ketidaksetaraan hak-hak politis mereka di negara itu.

lha saya?
saya yang gak lancar omong ini mau omong apa? untunglah saya punya "kantong ajaib" seperti milik doraemon. kantong celana saya yang kanan itu selalu berisi flashdisk yang berisi macem-macem file, yang kali ini tak bawa ukurannya kecil tapi isine sak giga. lebih besar dari yang biasa saya bawa. lha saking kecilnya, sehingga sok-sok keslempit sama kacu yang juga lokasinya selalu di situ.
saya minta ijin untuk menggunakan viewer yang ada di kelas. juga komputernya sekalian.
tak bukain internet, tak panggil peta indonesia, yogyakarta dan bantul pake google image.

mak jreeng
...
terkesiaplah semua-mua!
[saya sendiri juga terkesiap je liat internet cepete kayak gini. edun!]

saya membuka dengan mengakui bahwa bahasa inggris memang bahasa internasional, sehingga kita di kelas ini yang berisi orang dari berbagai belahan dunia ini bisa saling sharing mengenai pengalaman masing-masing. tapi, saya adalah arsitek, yang terbiasa tidak menggunakan bahasa verbal ning bahasa visual.
so, perkenankan saya bicara melalui gambar...

trus, makjreengnya dimulai lagi... semangkin menghentak...

tak bukakne files saya tentang penanganan bencana gempa di berbah kemaren dan juga foto rumah saya sendiri [halah!].
dari sana saya terbantu untuk omong mengenai negosiasi, kompromi, perawatan tradisi, pentingnya mitos, pentingnya pengetahuan dan tradisi lisan, pentingnya material lokal dan ketrampilan lokal...
pokoknya, hal-hal atau pokok-pokok yang menjadi tema diskusi hari ini. poko-pokok yang memang penting dalam memulai pembanguan suatu komunitas, yang oleh rekan lain disampaikan dengan verbal.
[aku ya verbal ning ditambahi gambar sehingga omonganku gak banyak pun sudah dimaafkan dengan foto-foto yang meyakinkan].

komentar instrukturnya: "komunikasi yang dijalankan dengan hati, dengan pengalaman atau penghayatan, itu selain meyakinkan juga memberi energi. menularkan energi kepada rekan bicaranya, selain juga membikin pembicaranya jadi penuh energi.."

[halah, memang bener sih. tapi itu juga karena saya habis makan siang! he..he.. fotonya nanti aja, nyusul. karena saking semangate sampek lupa harus memotret diri sendiri juga...]

21 May 2007

tony brown



















luncheon siang ini menampilkan seorang penyanyi baritone: anthony brown.
saya sudah melihat penampilannya hari minggu lalu di gereja. seorang penyanyi afro-amerika yang dalam membawakan lagu-lagunya selalu dengan semangat. semangat orang tertindas, sebagaimana semangat asli lagu-lagu yang dibawakannya.

ini bukan pertunjukan pavarotti, memang, tapi begitulah... lagu-lagu tadi dibawakan seolah dibawakan oleh seorang pavarotti.
seperti dulu para budak memainkan alat-alat musik tuannya secara fals sehingga justru melahirkan nada-nada blues. nada-nada yang kalau ditulis pake not balok harus diimbuhi tanda moll sampai 4 atau 5, tidak sekadar nada yang turun dan naik setengahnya.

tony brown membawakan dengan suara dibikin-bikin seserius suara pavarotti. digetar-getarkan seperti orang melayu menyanyikan lagu-lagu paduan suara gereja. dari perspektif itu suara tony jelek. tidak hanya itu: nista! karena tidak berhasil memenuhi standard suara yang sebagus pavarotti atau kiri te kanawa yang "suaranya seolah tanpa serat" itu.

tapi, sekali lagi, ini bukan pertunjukan sejenis pavarotti. ini pertunjukan dengan obyek yang berbeda: bukan pertunjukan tentang keindahan suara yang memenuhi pakem suara klasik barat. ini pertunjukan mengenai bagaimana seni [suara] ambil bagian dalam proses rekonsiliasi.

lagu-lagu yang dibawakan tony adalah lagu-lagu yang pada jamannya dulu telah membangun semangat, memulihkan harga diri, membangun perasaan senasib, menebarkan harapan, mengungkapkan keyakinan akan pemeliharaan tuhan...
lagu-lagu ini telah menjadi sarana bagi kepentingan kemanusiaan. fungsional dalam membangun kembali jaringan sosial yang rusak atau kendor. jadi, ini bukan pertunjukan seni demi seni itu sendiri.

seni telah diperalat? dalam arti tertentu ya, tapi dalam arti lain seni ini dikembalikan pada habitatnya mula-mula: komunitas. seni suara mula-mula tidak ada demi seni suara, tapi demi komunikasi antar anggota komunitas. untuk menyampaikan hal-hal subtil yang tidak bisa disampaikan dengan sarana komunikasi langsung.

tidak heran, bila pada kebaktian hari minggu kemaren, ada warga jemaat yang setelah mendengar suara tony brown langsung spontan menyeru: halleluya! amen!
aku setuju.
saat itu memang harus dinyatakan dua kata itu: halleluya dan amin.

[tapi aku tidak melakukannya. aku cuma mengusap air mata di balik kacamataku. ini kali pertama aku menangis di gereja di usa]

20 May 2007

ABCD

buku yang digunakan dalam kelas building communities di session kedua ini mengajak agar kita mendekati proses pembangunan masyarakat atau komunitas itu dari identifikasi aset-aset mereka.
buku ini mengajak untuk meninggalkan pendekatan yang bertolak dari identifikasi kebutuhan [needs] sebagaimana lazimnya para LSM melakukan selama ini. pengarangnya -biasalah, amerika- mengajak agar kita menghafal "rule of thumb"nya dengan ABCD: asset based community development.

pendekatan yang dikritiknya, yang bertolak dari needs itu, berpotensi menciptakan ketergantungan atau konsumerisme atas bantuan dari luar komunitas. lebih dalam lagi, pendekatan ini menciptakan rasa rendah diri, perasaan untuk harus selalu kekurangan, agar mengalirlah bantuan.

pendekatan yang ditawarkan dimulai dari indentifikasi skills yang bisa dikerjakan oleh tiap individu dan kemampuan apa yang ignin dikuasainya. langkah awal ini diperlukan untuk menghubungkan atau mempertemukan antara potensi dan kebutuhan yang telah ada dalam komunitas. tugas kita adalah membantu atau menemani proses identifikasi oleh anggota komunitas itu sendiri sehingga mereka menyadari adanya saling-ketergantungan antar mereka.

jadi, rupanya ini yang penting: kesadaran bahwa tiap anggota komunitas selalu punya potensi yang bisa dikembangkan. dan kedua, bahwa skill harus dicarikan hubungan dengan institusi atau asosiasi yang bisa menopangnya. baik di dalam mau pun di luar komunitas itu sendiri.

masih amish

berbeda dari orang kristen kebanyakan, orang amish tidak mengenal gedung gereja.
mereka beribadah dari rumah ke rumah. itu sebabnya maka rumah-rumah mereka selalu punya ruangan besar yang bisa dipakai untuk ngumpul seluruh anggota jemaat.

bagi seorang arsitek perbedaan sikap mereka dari orang kristen seumumnya ini menarik: mengapa mereka tetap memilih kehidupan religiusnya dijalankan secara privat atau rumahan, dan tidak publik?

kumpulan orang percaya setelah peristiwa pentakosta, sebutlah sebagai koinonia christianon, memang menyebar. ada yang ke barat, menyeberang dan atau menyusuri laut tengah sampai ke ibu kota kekaisaran roma. ada pula yang ke utara, dan timur: ke syria, jordan dan sekitarnya. ada pula yang ke selatan hingga ke kawasan arabia.
tapi, mau ke mana pun persebaran mereka ini, ada tahapan dari yang semula bersekutu di dalam rumah, lalu lama kelamaan mereka membangun sebuah bangunan publik di luar rumah yang bisa dihadiri oleh siapa saja. saya tidak tahu kapan dan mengapa peralihan ini terjadi. apakah ketika sekte yahudi yang oleh dominic crossan disebut sebagai sekte kristen [di samping sekte essen, farisi, saduki dll.] ini disahkan keberadaannya dalam kekaisaran roma oleh kaisar konstantin?

fakta arkeologis yang bisa digali memerlihatkan bahwa pada tahun-tahun awal kehidupan kekristenan berlangsung dari rumah ke rumah. lukas dalam kisah para rasul maupun surat-surat paulus memerlihatkan hal itu.
bahkan, ketika gedung bagi persekutuan mereka itu ada, maka yang dipilih adalah basilika, suatu building type yang sudah ada sebelumnya. sehingga hal itu membuktikan bahwa dulunya mereka memang tidak bersekutu di situ, yang lalu oleh karena suatu kebutuhan yang mendesak mereka ambil apa saja yang cocok dengan corak persekutuan mereka.

orang amish adalah cabang yang kesekian dari golongan anabaptis. golongan anabaptis ini muncul pada abad 16-17 an di eropa. jadi, ketika orang kristen dan arsitekturnya sudah dalam kematangannya [juga kemerosotannya]. orang amish muncul pada abad berikutnya di amerika. artinya, gereja dan arsitektur sejamannya sudah meninggalkan corak persekutuan rumahan ke persekutuan yang lebih bersifat lembaga publik.
pertanyaannya, mengapa justru pada masa itu mereka ingin kembali ke jaman yang lebih kuna? dorongan sosial, politik, teologis, ekonomi apakah yang memaksa mereka kembali ke format lama?
saya katakan "kembali" karena pasti mereka sebenarnya sudah mengenal gereja dalam format lembaga publik. jadi, ketika mereka tidak beribadah dalam gedung gereja publik, mereka berada dalam posisi memilih, bukan menerima begitu saja warisan dari tradisi sebelumnya.
sehingga, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: mengapa mereka memilih memahami koinonia christianon dalam format rumahan, padahal "seluruh dunia" memilih yang satunya?

begitukah pandangan dunia mereka bahwa dunia di luar kelompoknya adalah dunia jahat yang tidak perlu dilihat, apalagi diikuti?

old order mennonite

tadi sambil menunggu pak yo dan pak paulus belanja di walmart, saya diskusi dengan pak yoder dan ibu mengenai sejarah orang amish di amerika.

rupanya, orang amish yang saya lihat kemaren itu bukanlah orang amish yang sesungguhnya, tapi adalah orang-orang mennonite orde lama [begitu pak yoder menyebut mereka]: orang yang meniru gaya hidup orang amish tapi sudah [dan banyak] menerima teknologi baru dari kehidupan sekuler amerika di luar lingkungannya.

untuk mengolah tanah, mereka bisa menerima penggunaan traktor. tapi untuk mengangkut manusia mereka hanya membolehkan digunakannya dokar. itu sebabnya kemaren mereka terlihat berombongan berdokar ria, sementara setelah mereka pulang mereka menggarap ladang dengan alat-alat dan kendaraan berbau bengsin [eh, bensin! maklum, lagi ngantuk kekenyangen]

orang amish hidup lebih ketat lagi dalam membedakan diri dari orang amerika selebihnya. walau pun hal itu tidak berarti terputus sama sekali darinya. contohnya, mereka bisa menerima alat pager untuk menerima pemberitahuan mengenai kebakaran atau mengenai ternak mereka. demikian pula, mereka bisa menerima adanya telepon umum di pinggir desa mereka, tempat mereka -kadang dengan mencuri-curi- untuk bisa berkontak dengan orang di luar lingkungannya.
saya ingin melihat lebih jauh lagi mengenai mereka, nanti di pensylvania bersama rombongan MCC. saya ingin tahu bagaimana isolasi kultural atas nama ideologi melakukan negosiasi dengan kemajuan teknologi komunikasi, informasi dan transportasi.
[untuk yang terakhir ini ada website yang nakal, yang menggambarkan sarana transportasi modern gaya amish]

asia yang memanjakan amerika

tadi sepulang dari gereja, kami bertiga -dengan pak yoder juga- berjalan kaki ke rumah beliau.
pak paulus memang punya kepentingan untuk ke sana, sedangkan saya dan pak yo hanya ikut saja. ada banyak hal yang dibicarakan pak paulus dengan pak yoder, sedangkan saya menyibukkan bu yoder dengan pertanyaan sekitar rumah di daerah tersebut.

karena kami ke sana sudah saatnya makan siang, maka kami pun diajak bermobil menuju rumah makan asia di shopping center di mana terdapat juga di situ walmart.
makan di sini ini dijalankan seperti prasmanan di jawa: pengunjung boleh ambil apa pun yang dimau.
cara makan seperti ini bikin orang rakus, tamak dan lepas kendali. tidak heran bila hampir semua yang makan di sini orang-orangnya lemu-lemu. dan amerika semua, tidak ada orang asianya, hanya kami bertiga.

oh ya, makan memang seharusnya dengan kendali.
orang asia kendalinya adalah kemiskinan, sedangkan amerika -mustinya- adalah pandangan hidup atau ideologi yang menghargai sikap hemat dan tidak boros.

sorry, untuk tulisan ini tidak ada gambar mereka, orang-orang amerika yang dimanjakan oleh rumah makan asia, kecuali gambar saya sendiri yang memang gendut karena bawan.
[bawaan? nyang beneeer..... he..he..]