21 June 2007

di kantor mcc akron

kami sudah di akron.
tempatnya menyenangkan. bangunan-bangunan disusun tematik, menurut kawasan geografis dunia, tempat MCC menebarkan program-programnya: asia, eropa/midle-east, afrika, amerika.
bangunannya sederhana, ringan [bukan dari batu bata tapi dari papan-papan dan beratap seng], tapi interiornya luar biasa.
segenap perlengkapan kehidupan modern bisa didapat di sana: dapur yang kumplit, living room yang nyaman, kamar tidur dan restroom yang lega... dan semuanya ditata artistik.

kantor-kantornya pun bagus, meriah dengan berbagai atribut serta ekspresi daerah-daerah pelayanan MCC di belahan dunia. bagus tidak hanya dari segi arsitekturalnya, namun juga kaya dengan informasi yang bisa dibagi.
di sini memang sangat memberi perhatian pada publikasi. ada departemen khusus untuk publikasi, dokumentasi. di sini dirancang dan dicetak serta dikirimkan leaflet, selebaran, poster, newsletter, berbagai bentuk publikasi lain, seperti juga DVD.
ini penting dan bisa ditiru, karena yang diperlukan sudah kita punya: pengelolaan informasi dan disain grafisnya [untuk website dirancang oleh kantor MCC di kanada].

itu komentar singkat saya. masih berupa laporan pandangan mata.
secara pribadi saya ingin menjanjagi kemungkinan pengembangan publikasi ini untuk PSPP. beberapa rekan alumus SPI menginginkan agar dibuatkan website untuk mengikuti perkembangan para alumni SPI: apa saja pelayanan mereka sekarang dan apa dampak bagi dirinya maupun bagi lingkungan dia setelah mengikuti SPI. saya mendapat keterangan dari judy zimmerman bahwa tentang ini sedang dibicarakan di MCC.

18 June 2007

rhizomatic economic resistance

storytelling yang saya bawakan hari ini mengemparkan kelas.
apa sebabnya? karena saya menggunakan cara bercerita yang lain dari yang lain. belum dan tidak ada yang pernah mencoba metoda cerita saya itu.
saya memulai cerita dengan menunggu dulu sampai diminta: "giliran anto silakan maju dengan ceritanya".
lalu saya jawab: "saya sebenarnya tidak punya cerita karena saya harus buru-buru, ada rapat lingkungan sebentar lagi di rumah ini. tolong kursinya... akan ada lebih dari empat orang yang hadir dalam pertemuan mingguan ini" begitu saya memulai "sandiwara" saya sambil menyeret kursi dan menatanya menjadi 4 berhadap-hadapan. lalu saya menerangkan siapa saya dalam komunitas yang akan berapat ini. ada masalah apa yang memaksa adanya rapat ini. dan, undangan untuk mereka semua [teman-teman sekelas] untuk ikut hadir dalam rapat tadi.

dari pembukaan ini saja orang sudah terkesiap. karena mereka semua, ya semua, memulai cerita dengan "ini adalah kisah yang mengharukan saya.... atau, ini adalah kisah yang mengesankan saya ketika... dst."
saya justru mendobrak batas antara pencerita dan pendengar dengan pembukaan itu tadi.
mungkin ini bukan story telling yang lazim, lebih mirip pertunjukan sandiwara singkat tapi padat. tepat 5 menit, seperti yang diminta.

saya membawakan isu mengenai rencana hendak dibangunnya supermarket di suatu desa. rencana yang sudah pasti akan dilaksanakan ini saya duga akan menimbulkan gejolak di antara para warga desa karena banyak pasar akan sepi, banyak orang akan kehilangan pekerjaannya [sopir becak, ojek, para petani dan peternak dsb.]
lalu, saya mengajak mereka untuk menghindari kekerasan dan lebih baik menempuh resistensi damai dengan menggalang kerjasama antar mereka. [ini saya manfaatkan pengerahuan dari kuliah community building di session kedua.]
lalu, sebagai penutup rapat, saya meminta para peserta rapat 'khayalan' itu untuk membuat simbol bagi gerakan ini. jangan grassroot karena itu sudah umum, gimana kalau rhizome? itu lebih cocok, karena di kampung itu ada tanaman [salah satunya adalah jahe] yang bikin kita kuat dan segar bila meminumnya. dan cara rhizome hidup itu seperti network: spreading, seperti gerakan yang kami kerjakan dalam lingkungan ini.

jadi, gerakan menolak kekuatan global dari luar itu kami lakukan secara bersama-sama. dan kami pilih simbol lokal yang akrab di antara para petani itu sendiri.
kami membaca masalah global secara lokal, dan menandinginya secara lokal pula. setelah rapat itu, saya bicara menghadap rekan sekelas menerangkan mengenai makna cerita tadi: tentang resistensi kekuatan global secara lokal, mengenai menggelindingnya diskusi dan rapat lingkungan ini di desa lain, menjalar dan merambatnya gagasan perlawanan ini secara non-violence.

agaknya ini yang bikin lisa, paullete, will, tom, jenn pada seneng. fatimah yang pernah mendengar cerita ini sebelumnya lalu berkomentar: "kamu memang aktor"

halah..!

peace building through storytelling

saya baru ngerti hari ini mengapa personal storytelling itu perlu dan kuat sebagai pembentuk opini. baru saja kami dikenalkan dengan situs jerusalemstories project pimpinan carol grossman. situs ini dengan sengaja memang memajukan strorytelling sebagai sarana untuk membangun perdamaian "building peace throug sharing stories", demikian terbaca pada situs itu.

dalam kelas tadi juga kami melakukan wawancara langsung via internet dengan pimpinan ini [ning aku ora melu takon, lha cuma "capet-capet" ngertinya je...].
"jerusalem stories harnesses the power of personal stories and portrait photographs to promote empathy between people, a critical component of sustainable peace."
carol grossman adalah seorang penulis, pengisah dan juga praktisi resolusi konflik dengan dibantu oleh fotografer lloyd wolf menghasilkan tulisan dan foto potret dari kesaksian-kesaksian orang israel dan palestina yang diwawancarainya. mereka berdua menyajikan gambar dan kesaksian personal para pengungsi dan kurban konflik berkepanjangan antara israel-palestina itu di web, sehingga mendapatkan sambutan luas dari publik dunia.
gaya penceritaan yang ringkas dan kuat, serta pemotretan yang hanya mengandalkan hitam-putih membuat website mereka terasa fokus. tidak melebar ke mana-mana.

gaya penulisan yang ringkas memberi kemungkinan untuk itu, demikian pula foto hitam-putih membuat pengamat langsung pada ekspresi wajah serta bahasa tubuh obyeknya, tidak pada pernak-pernik warna. dan cara penyajian yang fokus ini [memang sengaja cuma melulu pada storytelling] membantu pembaca untuk menuju langsung pada sasarannya.

[rasanya kita bisa bikin beginian deh...]

memilih media dan seni yang strategis untuk PB

hari-hari terakhir ini kami banyak membicarakan bagaimana menggunakan seni dan menyiasati media dalam pemberitaan serta pembentukan opini publik mengenai peacebuilding. beberapa hari yang lalu howard zehr mengisi mengenai fotografi dan mural. dia bicara mengenai mural di pennsylvania sebagai outlet ketika ada konflik atau perseteruan antar kelompok. mural sebagai buah dari perdamaian di sana. sebagai monumen, penanda, dari suatu kesepakatan dan harapan mengenai kehidupan bersama di sana.

lalu kemudian ada presentasi mengenai bagaimana menyiasati fasilitas di internet yang ternyata powerfull, baik untuk mengunggah [upload] video, foto, storytelling, berita, angket dsb. ini semua dikerjakan dengan maksud, dengan niat, dengan strategi, untuk mencapai tujuan peacebuilding.

mengapa kita peduli pada penggunaan media dan seni secara strategis untuk peacebuilding? tidak lain karena ternyata media itu lebih suka berita tentang perang dari pada perdamaian. lebih suka berita dan film horror atau kekejaman, dari pada yang menentramkan. lebih suka berita mengenai perceraian dari pada berita mengenai keluarga yang harmonis... dsb.
artinya, media perlu disiati, perlu diakali agar mau membelokkan perhatiannya juga pada usaha-usaha peacebuilding.
pemberitaan mengenai perang, misalnya, bisa ditonjolkan mengenai perlunya perang dihentikan. pemberitaan mengenai security, musti ditonjolkan segi keamanan anak-cucu kita di depan, dan bukan tentang perasaan terancam kita.

bagaimana media disiasati?
yang jelas, media perlu diakui kekuatannya dulu, setelah itu baru bagaimana kita menyisipi hutan belantara kekerasan itu dengan cara lain. seperti, bagaimana mengatakan "tidak" dengan cara lucu, sopan dan elegan itu lho...

17 June 2007

no church please...

sorry, i am not going to the church this morning.
i prefer to go to the leipzig service at the lehman auditorium. we celebrate another kind of mass there with shenandoah valley bach festival.
an interfaith mass celebration, you may say.

[sorry, i have already made some notes on this celebration, in another place. follow this link]

16 June 2007

perempuan dan seni rupa

SPI ini banyak dihadiri perempuan. baik panitianya, pun pesertanya. [ning ora ana sing ayu. akeh-akehe lemu-lemu]
demikian pula ketika kami masuk kelas di session terkahir ini, lisa mengundang seniman perempuan cyndi untuk bicara mengenai proses kreatif dia sebagai perupa. beda dari perempuan lain, cyndi ini tidak lemu. kurus, seperti kebanyakan para pekerja keras lain.
karyanya, drawing dan sculpture, penuh dengan pernik ornamental.
saya ketemu dengannya beberapa kali lagi. pernah juga dikenalin dengan suami dan anak lelakinya. terakhir ketika dia membawa[kan] karyanya untuk saya lihat dan pegang.
di kelas memang saya omong kalau -mengikuti st.thomas- "tidak mau percaya omongan orang sebelum jari saya menyentuhnya sendiri karya anda". karyanya memang penuh dengan terkstur. tidak visual semata. artinya, perlu dipahami tidak cuma dengan mata, tapi juga rabaan.
rupanya dia memang serius dengan permintaan saya, sehingga dia bawakan karyanya pada saya.

apakah ada hubungan antara perempuan dan pernik-pernik ornamental? ada yang bilang bahwa pemahaman purba manusia mengenai jarak dan ruang itu lewat rabaan, bukan lewat pandangan mata. seorang bayi mengukur kedekatan dan kejauhan ruang sekitarnya lewat jangkauan tangan dan rabaan orang di sekitar dia.

pengalaman dunia lewat rabaan [tactile] itu merupakan pengalaman purba. purba dalam arti dasariah, bukan dalam arti telah berlalu dan tidak berfungsi lagi. tiap orang bisa membangkitkan kemampuan purba yang bagi orang dewasa telah tertindas oleh rationalitasnya ini.
dan ada yang bilang lagi, perempuan memiliki segenap kemampuan ini dalam kesiagaan penuh. dia konon lebih simpatik, mampu berbela rasa, dan mampu masuk ke dalam situasi secara menyeluruh, empati. mungkin itu sebabnya, banyak perempuan di pelatihan perdamaian ini. para cowok lebih suka berantem dari pada berdamai!

karya-karya cyndi, bila dilihat dari perspektif itu, perempuan banget! dan cocok untuk konteks perdamaian yang diusahakan oleh SPI ini.

14 June 2007

noon concert



beberapa hari ini diselenggarakan program bach's festival, sejak tanggal 10 juni kemaren. saya ingin benar nonton konser ini, bahkan pada awal kedatangan saya di sini ini saya sudah menghubungi panitia untuk minta jadwal dan beli karcisnya. tapi apa daya, karcisnya larang banget: $15 untuk student sehingga saya lupakan saja keinginan ini.

kemaren pagi, ketika istirahat jam 10.00 saya lihat ada pengumuman bahwa yang ingin nonton konser musik gratis, tersedia pengantaran, pada jam 12.00-13.00. acara ini masih dalam rangka festival bach di atas.
lha ternyata pengantarnya adalah margareth foth, si nenek baik hati ini.
lha ya langsung saja saya ndaftar. dan ternyata, yang ndaftar cuma 2 orang: saya dan beth, ibu muda dari washington DC, salah satu peserta SPI juga.
jadilah kami berdua diantar margareth ke gereja ashbury united methodist church, di downtown harrisonburg.

siang itu dimainkan karya libby larsen [b.1950] yang berjudul slang, suatu komposisi violin, clarinet dan piano. kemudian disusul oleh karya mozart [1756-1791] ein musikalischer spash, K.522, yang dimainkan pada horns, violins, viola dan cello. dan diakhiri oleh karya karl pilss [1902-1979] sonata for trumpet and piano.

yang menarik adalah karya kedua [dari mozart] yang memang dari judulnya saja sudah menunjukkan bahwa karya ini semacam karya lelucon, main-main yang serius. pertunjukan bagian ini diawali dengan pidato pembukaan dari pemimpin rombongan, tapi kemudian disela oleh pemain lain yang menanyakan partitur dia kok nggak ada. ternyata, partitur itu dibawa oleh anak kecil dipakai mainan [tapi, tentu lelucon ini adalah bagian dari pertunjukan mereka]. lalu kemudian di tengah pertunjukan, ada pemain yang berhenti [karena bagian untuk instrumennya memang harus berhenti] yang kemudian dia memanggil tukang pizza dan dia makan di situ, sambil temannya baca koran... dst.
pendeknya, musik klasik yang biasanya disikapi dengan dan dibawakan secara serius itu, kali ini jadi lain: full cengengesan. bayangkanlah, tengah hari ketika habis lunch, kita diharuskan mendengarkan hal yang serius kan susah, nah... begitulah maka karya ini menyumbang untuk refreshing di tengah hari kerja.

agaknya, margareth terkesan karena cuma saya yang tertarik pada acaranya. tadi pagi dia nanya apakah saya mau nonton konser esok sore? saya jawab bahwa sudah sejak lama saya pengen nonton tapi gak punya duwit. tiba-tiba dia nawarin untuk membelikan karcis bagi saya. halah...

jadi, sodara-sodara, besok sore saya akan nonton konser bach. karcis sudah dibelikan, dan untuk menghormatinya, saya ingin datang.
bener kata bu jeanny,
simbah ini baik banget!

12 June 2007

storytelling in peacebuilding

storytelling adalah seni menyampaikan hal yang kita anggap penting kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga mereka tergerak hatinya. storytelling itu mirip kerjaan seorang sales pemasaran: membawakan dengan segala cara keterangan mengenai komoditas kita kepada konsumen agar dia tergerak dan bergerak ke arah tertentu. ini memang tindakan persuasif yang tentunya juga lalu bersifat politis.

storytelling tidak harus selalu dibawakan dengan kata-kata, meski pun asalmulanya ketrampilan ini memang dari sana. storytelling untuk anggota kongres agar mereka menaruh perhatian pada perlunya perubahan kurikulum sekolah dasar agar anak-anak kenal pada peacebuilding sedini mungkin, m
isalnya, perlu dibawakan dengan tabel, foto dan diagram, selain dengan kata-kata yang persuasif.
pada dasarnya, ini mengembangkan pola komunikasi: sumber, medium, pesan, konteks dan penerima.

kelas di session keempat ini menambahkan peran "art" di samping media dalam peacebuilding. apa peran seni dalam peacebuilding?
seni adalah sebentuk medium komunikasi, bedanya dengan media lain yang diterangkan di atas, seni menyentuh sisi yang lebih dalam dari kesadaran manusia. di kedalaman inilah sebenarnya banyak bekerja dorongan-dorongan untuk berkonflik secara terbuka atau sebaliknya
kebutuhan akan perdamaian berada. jadi, kita perlu menyentuh hati sampai kedalaman itu dalam menjalankan tindakan proses peacebuilding.

baik seni rupa, seni suara, seni tari, musik, instalasi dsb. memiliki peran yang kuat dalam menyentuh kedalaman rasa dan hati manusia.
di kelas inilah saya berada dalam session keempat ini, bersama lisa, instruktur muda kami [iki bojone bill goldberg, dan pernah ke ukdw].

imam and pastor

baru saja kami pulang dari menonton film dokumenter mengenai rekonsiliasi di nigeria utara. judulnya imam and pastor. ini film produksi dari FLfilms bagus sebagai contoh mengenai peran pemimpin agama dalam mendorong umatnya agar memiliki semangat "pengampunan".
keterangan mengenai film ini bisa dibaca di situs iofc berikut ini [silakan klik ini].
ini kisah dari dua orang fundamentalis dari kedua belah pihak: islam dan kristen. yaitu imam muhammad ashafa dan pendeta james wuye. ashafa lahir dari keluarga imam dan sangat taat pada agamanya, sedangkan james ini anak mbambung yang kemudian bertobat menjadi pendeta pentakosta. dalam berbagai kerusuhan, james sempat terpotong telapak tangannya yang kanan.
pendeknya, keduanya akhirnya bergumul secara pribadi dan menemukan kesimpulan sama bahwa yang bisa dilakukan hanyalah mengampuni satu sama lain.
dalam diskusi setelah film itu muncul pertanyaan [yang saya setujui juga]: ini film menyederhanakan konflik islam-kristen menjadi hubungan hanya di antara pemimpin-pemimpinnya saja.
namun demikian, ini adalah sekadar contoh bahwa pemimpin punya potensi untuk menggerakkan umat pimpinannya untuk memilih perdamaian katimbang pertumpahan darah.
untuk traillers film tsb. silakan klik di situs FLfilm ini.

10 June 2007

kembali ke burg

harusnya, burg itu lebih besar dari ville. tapi, kenyataannya, knoxville itu kota yang lebih besar dan lebih ramai katimbang harrisonburg yang saya tempati kini.
barusan saja kami kembali dari knoxville, setelah empat hari di sana.
pulang ke kota kecil lagi.

terus terang, saya tidak tahu seb
enarnya kepentingan apa kok kami para peserta SPI ini musti diajak ke knoxville.
kegiatan kami di sana adalah bertemu dan bergaul dengan para aktivis perdamaian, lebih tepat:
para pendamba perdamaian dunia. mereka umumnya adalah para pensiunan yang setelah selesai bekerja bagi negara lalu bertempat tinggal di kawasan hijau berhutan-hutan dengan danau yang terjadi karena dam untuk membangkitkan tenaga listrik di sungai tennessee itu.
lho, katane knoxville itu kota lebih besar dari harrisonburg, lha kok berhutan-hutan?
iya, emang gitu, knoxvillenya itu memang kota ramai, tapi yang kami tempati adalah keluarga pensiunan yang tinggal di pinggiran knoxville tadi: lenoir, tanasi dsb. itu daerah berhutan dengan banyak kijang bersliweran di jalan, dan di pinggir danau yang bisa untuk berperahu di sana [ada juga tadi siang saya lihat bangkai kijang di tepi jalan].
bila dikatakan "aktivis perdamaian" yang saya maksud hanyalah para pendamba perdamaian. mereka, para pensiunan ini "hanya" bisa berkontribusi pada memberi sumbangan dana.


semalam, ada acara cultural nite, kami berbusana daearh masing-masing. saya pakai surjan dan iket dengan sarung hitam. lalu saya ngisi dengan nembang lagi dengan tembang yang saya bawakan kemaren di SPI itu.
lalu, tadi pagi saya diajak untuk ke gereja katolik st.thomas the apostle oleh kedua host kami berikut mary.
saya masih bisa mengikuti misa berbahasa inggris ini, meski pun saya menyahut semua litani dalam bahasa latin atau indonesia, sehapalnya saya saja.
dan selepas misa, saya ditanggap oleh diaken dan beberapa keluarga yang berminat pada masalah perdamaian, untuk diminta bicara mengenai apa yang sudah kami lakukan dan apa yang menjadi keprihatinan kami.
saya cerita mengenai kerjasama muslim-kristen di sala/yogya yang ingin menanam harapan agar dunia di depan lebih baik lagi, tidak ada lagi kekerasan yang berdasar agama seperti selama ini. rupanya mereka senang. mary memuji-muji saya karena saya dinilai menjawab dengan tepat kebutuhan mereka [halaaah...]
siangnya,
kami semua pergi untuk acara perpisahan di gereja episkopal st.james. makan kenyang dan seluruh makanan sisa disuruh bawa. ning aku ora...
lha legi kabeh je, bikin gendut perut, nanti sampai rumah bisa dicuekin mbek istri gimana jal?

08 June 2007

dari burg ke ville

saya sudah sampai di knoxville, tennessee, kemarin.
dari harrisonburg jam 09.00 pagi, sampai di knoxville kira-kira jam 15.00. njujug di rumah jim foster, salah satu pengurus kegiatan kerjasama SPI dengan para aktivis perdamaian di knoxville, yang rumahnya penuh buku itu.
sungguh-sungguh penuh.
dari tempat masuk, dapur, living room, kamar mandi, kamar tidur -apalagi kamar kerja- berrak-rak buku ada di sana. dan buku-buku itu kebanyakan saya kenal [seneng juga menyadari ini, ternyata koleksi buku saya tidak berada di jalan sesat! atau kalau mau meminjam ucapan seorang teman: saya ini tersesat di jalan yang benar! ha..ha..]. ternyata, koleksinya juga beragam-ragam, tapi saya merasa kenal, merasa seperti di rumah saya sendiri yang juga mengoleksi buku beragam-ragam.

tapi, saya tidak menginap di rumah jim itu.
saya menginap di rumah jim yang lain. seharusnya, saya dapat jatah untuk menginap di rumah paul-mary hilchey [yang dulu juga jadi hostnya bu jeanny] tapi ternyata mereka berdua mau pergi weekend ini sehingga mereka memasrahkan saya ke jim-shirley wenzel.
mereka adalah pasangan pensiunan, jim pensiunan mekanik angkatan laut berusia 84 tahun, dan shirley [82] belum saya tahu latar belakangnya.

mereka berdua bertemu saya ketika kami disambut di gereja church of the savior. tempat kami mengawali kegiatan ini. di situ juga berkumpul para hosts yang akan menampung kami di knoxville. bersembilan kami masing-masing membuat semacam kesaksian mengenai apa yang menjadi concern utama kami dalam kegiatan peacebuilding. ini berlangsung cukup lama, dari jam 6.00 pm sampai 10.00. tapi didahului dengan makan bersama secara potluck, dan baru pukul 08.00 kami melakukan 'kesaksian' tadi.
kesaksian ini kemudian disusul dengan doa secara taize [tapi sakjane ndak begitu taize banget], karena cuma menyalakan lilin dan kami masing-masing mengambil nyala lilin bagi lilin kami sendiri yang kemudian kami tancapkan pada tempayan berisi pasir putih, sambil mengucapkan harapan mengenai perdamaian.
[ternyata, produksi simbol-simbol beginian ini subur di kalangan pelatihan SPI]

selesai itu kami diantar pulang oleh pasangan host kami, pulang ke daerah lenoir, di tepi danau tennessee, yang jauhnya 25 mil dari knoxville. cukup jauh bagi seorang tua macam jim dan shirley yang dalam kegelapan malam mengantar kami menembusi hutan dan kadang-kadang melihat rusa yang menyeberang.

mereka berdua tinggal berduaan saja. keempat anaknya sudah mandiri dan memberi banyak cucu dan cicit. tapi, di rumah yang kecil rapi ini tidak ada buku. ada komputer, yang saya pakai sekarang ini, dan banyak alat rumah tangga yang serba otomatik dan menakjubkan bagi orang desa seperti saya. tapi untuk ini akan saya ceritakan kali lain saja.

05 June 2007

pangkur ngrenas, laras pelog pathet lima

ini tadi barusan saya ikut nyumbang acara dalam malam penutupan session ketiga. rupanya mereka terkesan dengan permainan suling "ngawur-ngawuran" saya ketika pembukaan session itu, sehingga malam ini saya diminta lagi.
tapi,
sayang sekali, suling bambu yang saya bawa dari yogya itu ternyata pecah di koper. mungkin ketindihan barang-barang sekoper, ketika koper dibanting-banting di bandara ketika pesawat harus transfer.

valerie menjadi juru selamat.
valerie meminjamkan blok flute, entah dari mana, untuk saya pakai malam ini.
dan saya mengaku saja bahwa ini suling barat akan saya mainkan secara jawa, alias "ngawur-awuran" semau-mau saya.

saya memainkan tembang macapat pangkur ngrenas, laras pelog pathet lima. rasanya ini paling bisa saya mainkan dengan blok flute diatonik itu. lagian, tembang ini sebenernya sudah saya hapal garis besar kata-katanya.
lalu,
kembali internet jadi juru selamat. saya browsing untuk nyari tembang itu dan nemu di sini [pdf]. di situ ada lirik berikut keterangan mengenai tembang ini.
rupanya, pangkur adalah tembang untuk meredakan atau menenangkan orang yang sedang dilanda semangat bertempur [in a passion of violence or fighting]. wah... ciociok banget ini...
njuk saya cari [browsing lagi, maksudnya] terjemahannya. dapet di sini.
tapi, nek diinggriskan kok rasanya kurang menggigit ya?
njuk,
kembali semangat ngawur-awurannya kumat. saya katakan saja bahwa terjemahannya kurang tepat. tapi maksudnya adalah gini-gini-gini.... wis, gitu aja, bule-bule paling ndak tau juga kok...apalagi fans saya yang dari afrika, india dan nepal itu ...halah...paling ra reti!

lha untuk menambah dramatisasi, saya minta meja untuk saya pakai duduk bersila di atasnya. setelah melepas sepatu, lalu saya duduk bersila, pakai iket, njuk kalungan kain hitam yang saya bentuk seperti stola. make stolanya aja pakai nyembah-nyembah, biar dramatis.
dan penonton memang senyap.
cep...klakep!
[batinku ngguyu dhewe!]

lalu mulailah saya meniup seruling.
mula-mula melengking ngawur, njuk makin lama makin mendekati tema tembang pangkur itu. saya susul dengan pembacaan bait pertama.
Mingkar mingkuring angkårå
akarånå karenan mardi siwi
sinawung resmining kidung
sinubå sinukartå
mrih kretartå pakartining ngèlmu luhung
kang tumrap nèng tanah Jåwå
agåmå ageming aji
ambil nafas,
lalu saya tiup lagi melengking-lengking ngawur sejadi-jadinya... kembali saya arahkan ke tema tembangnya.
lalu masuk ke bait kedua.
Nggugu karsané priyånggå
nora nganggo peparah lamun angling
lumuh ingaran balilu
uger guru aleman
nanging janmå ingkang wus waspådèng semu
sinamun ing samudånå
sesadhoning adu manis
selesai itu saya sajikan terjemahannya dalam bahasa inggris:
We set aside the needs of the self
For the pleasure of educating children
Through good songs,
Worded beautifully and with care,
So that they will learn the high knowledge
Prevailing on the island of Java
According to the religion of the Kings.
sebelum meninggalkan "panggung" berupa meja itu saya nyembah lagi. embuh nyembah apa...
dan tepuk tangan gemuruh...ditingkah suitan bersiut-siut dari rekan-rekan afrika dan nepal.
saya membatin: ini untuk bapak!
[ketika saya naik "panggung" saya memang teringat bapak almarhum]

04 June 2007

reconciliation as a peace-building process in postwar europe

hari ini kami membicarakan hal yang masih bersangkut paut dengan tema besar kelas ini: rekonsiliasi. tajuk yang dibaca dan didiskusikan adalah artikel alice ackermann dalam jurnal "peace & change", vol 19 no.3, july 1994: p.229-250. mengenai kasus rekonsiliasi jerman-prancis pasca perang dunia kedua.

perang dan perseteruan kedua bangsa ini sendiri pelik. sudah berlangsung lama. namun demikian, pendekatan baru mengenai rekonsiliasi dari gardner feldman coba dipakai untuk menerangi proses rekonsiliasi antara kedua bangsa.
...it is crucial to recognize not only the political dimensions but also the significance of the psychological and moral dimensions of reconciliation.

jadi, artikel alice ini bermaksud ke sana: melihat secara teoretik maupun empirik rekonsiliasi sebagai proses. bukan hanya dimensi politik, namun juga moral.
langkah pertama adalah penerapan teori rekonsiliasi dalam hubungan internasional, dari joseph montville dan gardner feldman. yang pertama mengusulkan tiga proses mendasar: the humanizing of relationships among leaders, the creation of domestic environment conducive to peace, the creation of cooperative linkages.
sedangkan yang kedua, rekonsiliasi bagi feldman adalah proses penyiapan struktur yang menghasilkan hubungan damai yang langgeng antara kedua bangsa/negara. ujung dari proses ini adalah "structural peace, that is a condition of durable peace based on the establishment of multilateral and bilateral structures...".

proses ini ditandai dengan berubahnya lawan menjadi kawan.
artikel ini kemudian memerlihatkan contoh-contoh bagaimana penciptaan linkages itu terjadi pada lahirnya EU. suatu proses yang mula-mula justru digerakkan oleh LSM kedua negara untuk saling mengingat keganasan perang dengan cara sederhana seperti ziarah ke masing-masing makam dan monumen para pahlawan kedua belah pihak. membuat semacam "collective grief" dan "collective mourning".

rekonsiliasi ini tidak menjamin akan kelanggengan hubungan damai, karena struktur ini perlu selalu dipelihara dan dirawat baik-baik. utamanya dari ancaman nasionalisme ekstrem.


forgiveness and reconciliation in buddhism



sallie king, from JAMES MADISON university, harrisonburg

A. GENERAL ORIENTATION: FOUR NOBLE TRUTHS
  1. problem: suffering
  2. identify the root causes: ignorance and crowing....."i want"
  3. vision of goal: cessation of suffering... nirvana
  4. identify methods: path to the cessation of suffering
B. ESSENTIAL METAPHYSICS
  1. interdependence
  2. no self
  3. karma
C. DHAMMAPADA
D. ENGAGED BUDDHISM
E. THREE EXEMPLARS OF ENGAGED BUDDHISM:
  1. maha ghosananda, cambodia
  2. thich nhat hanh, vietnam
  3. dalai lama

01 June 2007

forgiveness

ini adalah topik panjang yang dibicarakan sejak kemaren.
bagaimana mungkin sebuah sikap bermusuhan, dendam dan kekerasan yang tertimbun karena beliefs, values, ideology, tradition bisa terhapus begitu saja?
ini semuskhil memindah pucuk gunung es tanpa memindah sekujur gugusan gunung yang ada di bawahnya.
hanya satu saja caranya, ialah pengampunan. forgiveness.

dan untuk topik itu kami belajar dari tradisi budhis, khususnya zen-budhism.
kemaren kami membahas mengenai empty mind. dan sekarang kami belajar mengenai the noble truth dari seorang budhist yang diundang untuk memberi ceramah dalam kelas kami.

30 May 2007

philosophy and praxis of reconsciliation

ini adalah kelas yang aku ambil dalam session ketiga, bersama prof. hizkia assefa.
kelas dibuka kemaren dengan membahas perbandingan mekanisme dalam menangani konflik. dari yang menggunakan pemaksaan hingga rekonsiliasi. keduanya ditempatkan sebagai sebuah kontinuum. pembandingan ini dimaksud agar kami bisa digiring untuk menghargai rekonsiliasi.

rekonsiliasi disadari bukanlah perkara sederhana. ini seperti puncak gunung es. yang kelihatan cuma sedikit, sementara yang terendam di air adalah nilai-nilai, kepercayaan, life-style dan berbagai hal yang mewarnai tindakan yang terlihat di permukaan tadi.
[materi seperti ini sudah saya ketahui di PSPP karena tiap kali pelatihan selalu menggunakan penyadaran ini bahwa konflik itu ada akar-akar lembut yang mencengkeram di bawah yang nampak].

hari ini tadi kami mendiskusikan persentuhan kekristenan dengan zen budhism. khususnya mengenai pengertian empty mind. dalam kutipan yang digunakan, nampaklah istilah sunyata yang dalam budhism dimengerti sebagai kekosongan tapi penuh isi. pengertian ini masih dilestarikan oleh orang jawa yang mengatakan kasunyatan sebagai kenyataan, realitas.
padahal, istilah itu memuat pengertian sunya yang berarti kosong atau sepi.

malam ini kami mendapat tugas untuk diskusi esok pagi mengenai kasus konflik-konflik di rwanda. ini konflik yang rumit, berbelit-belit antara kepentingan politik luar negeri para bekas penjajah [belgia], konflik historis antar etnik dan berbagai kekuatan wacana yang dibikin oleh para penulis kisah sejarah.

jangan kemana-mana, tunggulah laporan saya esok hari.
halah..!

rindu ronda

tengah malam ini aku nglilir.
tadi udah ketiduran di sofa ketika nonton tivi.
jam segini ini biasanya aku mendengar bunyi kentongan ronda.
tapi tidak di sini.

aku rindu bunyi kentongan ronda.
bunyi yang membuatku terjaga.
jam-jam segini ini biasanya.
tapi tidak di sini.

29 May 2007

living in harmony

tadi kami kelompok asia&australia diminta mewarnai pembukaan session ketiga.
beberapa hari ini kami berapat dan tidak pernah lengkap: myra, alex, victor, saya, hur, pak yo, pak paulus. lalu tadi ketambahan ling yang baru datang dari weekend.

tema, seperti yang saya usulkan dan diterima secara aklamasi, adalah "living in harmony". tema ini saya pilih karena saya pikir kekhasan kultur di asia adalah seperti itu: harmoni, alih-alih dominasi. baik harmoni terhadap alam, sesama maupun "yang ilahi".

acara tadi dimulai dengan pemanggilan, yakni tiupan seruling dan pukulan lunak mangkuk budha. seruling yang niup saya. lha adanya adalah seruling blok yang doremi itu, maka tak tiup aja seruling itu kuat-kuat sehingga melengking tinggi dan saya mainkan seperti tiupan yang merintih-rintih... tak tiup semau-mau saya. wis, embuh lagunya apa, pokokmen tak tiup meliuk-liuk gitu...

eee... lha kok malah menarik orang sehingga mereka mau berkumpul masuk ke ruangan dan berebut motretin sayah...aduh... jadi ge-er nih...

lalu acara dibuka dengan penyalaan dupa oleh alex, yang kemudian dupa itu ditancepin di mangkuk berisi pasir yang ditarok di atas meja utama [sementara itu, di halaman luar, di sudut-sudutnya udah tak tancepin 12 batang dupa di keempat penjuru angin].
lalu ada sambutan pembukaan oleh myra, disusul oleh berbagai sambutan lain dari pat martin dan doa. lalu ada tarian selamat datang dari laos dan myanmar yang dilakukan oleh ling dan victor. victor ini juga ndagel, nari semau-maunya asal gerak niru gerakannya ling aja...

saya -seperti biasa- diminta ngurusin komputer untuk presentasi foto-foto mengenai asia&australia. ini bukan foto-foto untuk konsumsi turis, tapi memang tak download dari internet sehingga dapet foto-foto buagus... dan memang dipuji banyak orang. isinya mengenai harmoni dengan alam dan manusia serta aktivitas religius orang asia.

habis itu acara perkenalan masing-masing dengan cara maju menyebutkan nama dan asal lalu menempelkan stiker kecil berwarna-warni [boleh dipilih sendiri mau warna apa] di peta dunia besar yang sudah ditempel di depan. acara ini menarik karena dengan demikian acara perkenalan lalu meninggalkan jejak secara spatial.

selanjutnya nyanyi dengan lagu berbahasa tagalog, spanyol dan inggris tentang damai, yang dipimpin myra. ini meriah dan gayeng. dan seterusnya hingga berakhir dengan menyanyikan shallom...shanti...shadu...shancai...salam...

sungguh. acara tadi mengesan dan kami semua merasakan sukses.
thanks lord!

27 May 2007

everybody is someone's hero

tulisan itu saya baca di suatu billboard iklan di metro, di bawah tanah washington dc.
kayaknya iklan asuransi. entahlah, aku nggak ingat benar. itu terbaca selintas ketika kami dolan ke dc.

kami tadi ke washington dc [lagi]. kali ini bersama pak hur, pak yo, dan daniel. saya sebenarnya tidak niat karena tahu bahwa untuk bepergian begini pasti bakal keluar uang banyak. tapi karena ada rencana mau mblusak-blusuk pake metro, maka saya pun tertarik. apalagi daniel janjiin ongkosnya masih terjangkau.

kami blusukan ke united states holocaust memorial museum.
museum hasil karya almarhum arsitek james ingo freed ini sebenarnya biasa-biasa saja, tapi mendapatkan lokasi site yang bagus dan terhormat. dan yang lebih penting dari itu adalah caranya mendisplay materi pameran serta otentisitas materi pamerannya sendiri memang kuat. dia pernah jadi orang kepercayaan arsitek i.m. pei, yang merancang east building national gallery of art di deket situ.

otentisitas materi pamerannya sendiri kuat. ngefek banget!
buktinya, semua orang merasa ngeri sepulang dari sini. termasuk pak yo.
dan sebenarnya, ini sudah dikatakan oleh daniel sebelum kami pergi.

daniel hari ini jadi pahlawan kami. dia menuntun kami seharian, juga mbayari duluan pembelian karcis metro, lalu membantu menyusuri peta bawah tanah dc yang buat kami rumit itu. udah gitu, dia masih nyopirin dari fairfax sampai ke harrisonburg pergi pulang!
halah...
itu belum apa-apa saudara-saudara. sebab, ketahuilah, dia pula yang mbayarin bengsinnya! betapa tidak tahu malunya kami ini...:-)
udah gitu, di asrama, dia masih masakin nasi buat kami..
[betapa keterlaluannya dia! eh, maksudku, betapa keterlaluan baiknya dia]

hari ini,
dialah hero kami.
tenan!

keset raksasa

[tulisan ini masih seperti tulisan-tulisan sebelumnya, isinya cuma gumun-gumunan. terheran-herannya wong ndesa seperti saya ketika masuk di dunia yang amat berbeda.]

tadi malam kami diundang makan malam oleh puput, nita, daniel dan chie-chie.

kami masuk ke rumah mereka yang tidak jauh dari rumah pak yoder dan pak sumanto.
masuk rumah itu perkara tersendiri.
setelah pintu rangkap itu dibuka [pintunya memang ganda, satu membuka keluar, satu membuka ke dalam] kami berada dalam ruang 2x2 meter yang dikitari pintu semua. kami di minta masuk ke salah satu pintu yang membawa kami ke tangga naik ke attic.
tangganya tertutup karpet sepenuhnya.
setelah naik sampai di atas, lantainya pun jebul tertutup karpet sekujurnya.

saya perhatikan, tidak ada satupun di antara kami yang lepas sepatu atau sandal. jadilah kami semua mendaki tangga dan masuk ruang atas dengan sepatu dan sandal melekat di kaki.
lha jebul, ini memang kebiasaan di sini. lumrah bila sandal dan sepatu tetap melekat sementara lantai tertutup karpet.

karpet ini, rasanya, sudah menjadi keset raksasa.
walau pun, sandal dan sepatu kami tidak sekotor di indonesia, tapi tetap saja saya tidak tega mengenakan sepatu di lantai karpet itu: sepatu sandal saya tak lepas di dekat pintu keluar.

ketika saya pulang, yang celaka saya sendiri: harus nyari-nyari di mana narok sepatu sandal saya tadi...
[salahe dhewe ndadak dilepas segala! nggayaa...he..he..]